Bandara Sebuah Bandar

Entah sudah berapa kali kukatakan tempat ini selalu menyajikan pemandangan terindah dalam hidupku. Aku tak pernah menghindari ini, meski jarak selalu berujung kepedihan. Karena kepedihan, seperti yang kau katakan pada setiap teman baikmu, suatu saat nanti, entah kapan, entah di mana, entah bagaimana, kita akan bertemu lagi.

Semua nyanyian sedih akan terngiang di kepalamu saat sebuah perpisahan merambat namun cepat. Aku paham hasratmu terlalu mengikat, asa tak ingin terlepas.

“Pulangkah kau pekan depan?”

Kau tahu pertanyaan itu untuk diri yang gagu menjawab.

“Akankah kau di pelukku pekan depan?”

Kau tawarkan kehangatan meski kau tahu tak bakal kuputar haluan.

“Akankah kau hadir di pintuku pekan depan?”

Kau umbar harap meski tahu tak bakal menuai janji setebal kitab suci.

Aku tahu pintu itu selalu terbuka untukku. Tinggal kuketuk pintu dan kau hidangkan lagi secangkir kopi, satu kecupan selamat datang, berikut ucap lirih, “akhirnya kau pulang.”

Kopi panas itu mengendapkan asa dalam kepahitan di ujung cangkirnya yang ingin terkecup bibirku setiap pagi. Asa yang tak pernah berkenalan dengan ujung. Ujung yang hanya berupa kabar tentang kapan aku datang untuk bertemu. Pertemuan yang sesudahnya selalu saja kau ingin mengantarku, menunggu sampai burung besi yang menelanku terlepas pandang di balik layar awan. Lepas layar awan (kutahu) menggunung ungu di matamu. Ungu warna penyambut si sepi sahabat setiamu.

I’m not asking for the moon.”

Aku tahu kau tak meminta bulan. Mungkin hanya kembang gula. Mungkin kau hanya meminta bulan untuk menghadirkan kembang gula untukmu. Hingga saat ini masih terpatri segalanya waktu yang sudah-sudah saat kau temukan aku menatap padamu. Menatap dengan pandangan polos seorang anak kecil menginginkan sepotong kembang gula. Gula-gula mengembang berwujud muara untuk kata pulang.

Namun kau selalu memikirkanku, setiap detik dari hidupmu. Kau coba melupakanku dalam setiap setengah detiknya yang panjang. Bahkan ketika sebuah cinta lain menyapa dan kau coba menepis sebuah rasa untuk kebersamaan lagi. Tapi kemudian aku datang mengetuk pintumu. Dan dari balik pintu kulihat paras yang mekar karena penemuan harapan yang sempat dimatikan. Lalu, seperti biasa, kau hadiahkan aku satu kecupan selamat datang yang panjang, secangkir kopi panas, dan tak lama kemudian aku terkulai lemas berkeringat di pinggir ranjangmu bak boneka kayu.   

“Kalian perempuan tak harus selalu menunggu,” itu kukatakan padamu, mungkin belasan kesempatan lewat, ketika kau lagi-lagi mengantar aku ke sini sekaligus menjemput kepedihanmu.

Aku tahu ruang itu masih milikku, tetap akan jadi milikku. “Aku sisakan tempat itu tak tersentuh jika sewaktu-waktu kamu putuskan untuk datang lagi dan melihat pada jendelanya,” katamu.

“Kalau dia jendela dia tidak selalu harus terbuka. Kau bisa saja mengunci atau merapatkan tirainya,” kataku.

“Dia tetap jendela. Aku perlu membukanya agar tak pengap di dalam,” balasmu. “Kaulah angin itu, tak sesak udara kalau kau ada.”

Tempat ini juga sebuah jendela besar. Jendela yang mempertemukan juga memisahkan. Jendela yang dapat membawamu ke mana saja. Jendela besar yang juga sebuah layar besar yang mempertontonkan ribuan ekspresi. Ekspresi mereka yang menyusuri jembatan perpisahan. Paras-paras meratapi hari depan yang tak lagi pernah sama, karena mereka harus berjalan sendirian tanpa rasa tenang. Wajah-wajah yang bertukar janji tentang kembalinya jiwa dari pengembaraan mencari setitik nafas penghidupan. Juga mimik-mimik murung sesaat karena hati tak lagi tertambat dan bebas berlayar walau tak tentu mereka temui labuh hati yang baru. Jendela yang melepaskan aku dari sisi yang kau kehendaki. Dan kau katakan padaku kau tunggu di sini sampai terburai antariksa dibelah burung besi menuju bandar yang kutuju.

Sebuah siang yang panas dan menyengat ketika kakiku kembali menapak di tempat yang selalu kurindu ini dan dari layar teleponku terlihat pesan singkatmu hadir.

Jangan pernah datang lagi di depan pintuku. Aku tak melupakanmu. Dan tak ingin begitu. Kalau aku ingin kau pulang, maka aku yang datang. Aku tak meminta bulan: tunggu aku mengetuk pintumu.

salah namaku

seekor anjing tergopoh-gopoh masuk ke gereja, menerobos pintu dan tergesa menuju bilik pengakuan. untung jam pengakuan belum berakhir. pastor yang terkantuk-kantuk bertanya, "anakku, kau begitu tergesa-gesa. katakan apa dosa yang telah menyiksamu."

"bapa, maafkan aku. mungkin aku berdosa dalam pikiranku."

"apa itu?"

"tuanku..."

"ada apa dengan tuanmu?"

"aku meragukan kasih sayang tuanku. sudah sewindu aku mengabdi padanya, tapi dia sering salah menyebut namaku. dia memanggilku dengan nama si brengsek peliharaannya dulu. si brengsek yang suka merusak mengorek tanah dan merusak kebun bunganya, si brengsek yang tak kenal tempat buang kotoran, si brengsek yang beberapa kali menggigitnya. si brengsek yang meninggalkannya tanpa pamit. baru saja tadi dia tak sengaja memanggilku dengan nama si brengsek itu. aku tersiksa kenapa tuanku tak pernah mengingatku."

"dasar anjing goblok, kenapa harus mengingat yang ada di depan mata!"

dia senang aku senang

ibu: "pacarmu itu menyenangi apa padamu?"

"ia berpikir, aku ini tampan, berbakat, pandai dan pintar menari."

"dan engkau menyenangi apa padanya?"

"ia berpikir, aku ini tampan, berbakat, pandai dan pintar menari."

tough ain't enough

karena itulah upasara wulung rela melepaskan segenap tenaga dalam yg dimilikinya. sehingga dia menjadi manusia biasa, sehingga tak pantas jabatan mahapatih majapahit disandangnya. padahal dia sedang dalam jalan menguasai jurus jalan buddha. yang akan membuat dia miskin tandingan. mari membaca senopati pamungkas hehehe

tetap terseksi

Perut_2

...
saat perutku mulai buncit
yakinlah ku tetap terseksi
dan tetaplah kau slalu menanti
nyanyianku di malam hari

genggam tanganku saat tubuhku terasa linu
kupeluk erat tubuhmu saat dingin menyerangmu
kita lawan bersama...dingin dan panas dunia
saat kaki tlah lemah...kita saling menopang
hingga nanti di suatu pagi
salah satu dari kita mati
sampai jumpa...di kehidupan yang lain

(saat aku lanjut usia - sheila on 7)

=)

teka-teki silang

6. (mendatar) kelam
mari kita pandang hidup sebagai sebuah teka-teki silang. sebidang persegi besar dengan persegi kecil-kecil di dalamnya, warna putih untuk diisi. persegi hitam jelas perlu ada, menjadi batas bahwa ada bagian hidup yg perlu digelapkan, tidak perlu diisi, tidak perlu diberi pertanyaan, apalagi dipertanyakan.

11. (menurun) kantor berita israel
hidup sering mempertemukan kita dengan pertanyaan-pertanyaan yang itu-itu lagi. membosankan, apalagi kita tidak persis tahu jawaban yang sesungguhnya. tapi jawaban pertanyaan itu ternyata bisa nyaris tersusun oleh huruf-huruf jawaban dari pertanyaan lain. mungkin kita cukup menambah satu huruf, agar jawaban itu menjadi ada dan klop semuanya. mungkin tambahan satu huruf itu tidak sepenuhnya benar untuk menunjuk jawaban benar akan pertanyaan misterius tadi. tapi akuilah, jawaban atas sebuah pertanyaan tidak melulu ada pada anda, tapi bisa dirangkai oleh yang lain.

17. (mendatar) temu
inti dari teka-teki silang adalah bukan pada pertanyaannya, tapi pada persilangannya. bila hidup adalah sebuah jalur panjang (yg kerap tidak lurus tegang), dia menjadi menarik ketika ada persimpangan yg membuat kita saling bersilangan jalur dengan yang lain. di persimpangan itu kita saling menyapa, bersenda gurau, bercinta lalu saling melambaikan tangan. tidak dosa untuk menangis, tapi bersyukurlah akan sebuah pengalaman pernah bersilangan. mungkin singkat, mungkin sakit, meski hanya satu huruf. tentu 'teka-teki sejajar' sangat tidak menarik. sebab dua jalur sejajar tidak pernah saling mengenal, tidak pernah saling melengkapi.

39. (menurun) sampai jumpa (rusia)
dalam hidup ala teka-teki silang, menjawab semua soal bukan tantangan paling utama. teka-teki silang yg menarik adalah yg tidak semua tercoret kotak putihnya. boleh-boleh saja kita begitu bernafsu mengisi semuanya. tapi masih ada lembar teka-teki silang lainnya, kan?

kerja kerja

Ikan_copy1_1 kerja kerja ayo kita kerja

di pulau

Karimun1a_frame_copy

Cintaku Jauh di Pulau

Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri

Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak 'kan sampai padanya.

Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
"Tujukan perahu ke pangkuanku saja,"

Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
Perahu yang bersama 'kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,
kalau 'ku mati, dia mati iseng sendiri.

chairil anwar, 1946

corner orbit elevate

Vit8at the corner of your lips

at the orbit of your hips

eclipse, you elevate my soul =)

cemas-cemas

cemas ditinggalkan. cemas tak seksi lagi. mencemasi penuaan. cemas wajah berkerut, cemas pinggul berselulit. cemas dianggap bodoh. cemas mandeg karir. cemas cinta meluntur. cemas tak dihargai. cemas miskin. cemas kalah.

masa depan dan kecemasan selalu berjalan beriringan. tapi hampir selalu pasti kecemasan berjalan dua langkah di depan. kecemasan yang satu bisa tak dihiraukan, atau menjadi tertawaan oleh yang lain. dua orang harus berbelah jalan dan mengucapkan selamat tinggal, akibat dua kecemasan yang tak saling bersilangan.

Sebagian, terlalu sibuk menuntaskan rasa cemasnya, mencari kepastian pada setiap sudut di luar batasnya. bila cemas itu tak datang, orang itulah yang menjemputnya. sebagian lagi tak bisa berdamai dengan kenyataan, baginya hidup adalah kecemasan itu sendiri. sebagian lagi nyaman dengan sikap munafiknya. seolah kepalanya bersahabat dengan kenyataan, tapi kakinya merayap di masa lalu. baginya, pemberontakan jauh lebih mencemaskan daripada menuruti kecemasan hatinya.

ada juga yang melihat kecemasan terlalu nyata, tapi bodohnya dia diam tidak melakukan apa-apa. adakah rasa cemas itu sendiri adalah kenyataan… adakah kecemasan itu serupa godot? maka kecemasan itu tidak bercerita tentang apa-apa…